Saturday, May 11, 2013

Tips Herbal: jerawat bisa hilang tanpa bekas dengan madu

Jika Anda berjerawat atau punya banyak bekas jerawat di wajah, tentu Anda akan mencoba segala hal untuk membuat jerawat dan bekasnya segera menghilang dari wajah.
Alam telah menyediakan obat terbaik untuk menyembuhkan jerawat dan merawat kecantikan kulit.
Anda dapat membersihkan kulit secara holistik dengan menggunakan produk alami dan mengonsumsi makanan sehat.
Salah satu produk alam yang bisa digunakan untuk merawat wajah berjerawat sekaligus mempercantik dan mengencangkan kulit wajah adalah madu.
Madu dapat digunakan sebagai masker wajah untuk menghilangkan jerawat, bekas jerawat, serta mengurangi kemerahan dan iritasi akibat jerawat.
Madu mengandung sifat penyembuh alami yang terdiri dari enzim, antioksidan, dan anti bakteri yang dapat membantu membersihkan kulit.
Selain itu, madu merupakan pelembab alami yang sangat bagus. Madu juga dapat mengurangi kelebihan minyak pada kulit. Masker wajah yang terbuat dari madu sangat bagus untuk orang yang memiliki kulit sensitif.
Menggunakan madu 2-3 kali seminggu sebagai masker wajah, bukan hanya akan mengurangi jerawat dan bekasnya, tetapi juga akan membuat kulit wajah bercahaya.
Berikut adalah tips menggunakan madu sebagai masker wajah untuk menghilangkan jerawat dan bekasnya:
1. Gunakan bandana untuk mencegah rambut terurai ke area wajah sebelum menggunakan masker wajah dari madu.
2. Hapus semua make-up dan cuci wajah dengan sabun lembut dan air hangat sebelum menggunakan masker madu.
3. Tuangkan satu sendok makan madu murni yang masih mentah ke dalam mangkuk kecil. Jika mau, Anda bisa menghangatkan madu selama 10 detik dalam microwave sebelum menggunakannya.
4. Oleskan madu menggunakan aplikator atau jari yang sebelumnya sudah dibersihkan. Oleskan madu dengan lapisan tebal ke seluruh area wajah. Biarkan madu menempel pada wajah selama 15 menit sampai satu jam.
5. Untuk menghilangkan madu, usapkan handuk kecil yang telah dibasahi dengan air hangat ke wajah. Ulangi proses ini sampai semua madu benar-benar bersih dari wajah.
Anda dapat menggunakan masker madu ini 2-3 kali dalam seminggu atau sesuai dengan keinginan.


sumber:http://amazine.co/2486/tips-herbal-menghilangkan-jerawat-dan-bekasnya-dengan-madu/

Friday, May 10, 2013

Tips Efektif Mengecilkan Pori-pori Wajah

Sebelum berusaha mengecilkan pori-pori wajah, Anda harus mempelajari lebih dahulu apa yang menyebabkan pori-pori menjadi besar.
Banyak orang yang tidak benar-benar dapat mengecilkan ukuran pori-pori, tapi hanya bisa membuatnya terlihat lebih kecil.
Seiring bertambahnya usia, pori-pori umumnya akan membesar karena semakin berkurangnya elastisitas kulit.
Berikut adalah tips untuk mengecilkan pori-pori wajah secara efektif:
1. Mencari tahu penyebab utama membesarnya ukuran pori-pori.
Genetika memainkan peran yang cukup besar dalam menentukan ukuran pori-pori, dan sayangnya tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah faktor tersebut.
Minyak pada kulit secara natural akan turut menentukan ukuran pori-pori. Tubuh menghasilkan sebum (minyak kulit)  secara alami untuk mencegah kulit dari kekeringan.
Jika Anda memiliki kulit yang sangat berminyak, kotoran akan mudah menempel dan mengendap dalam pori-pori sehingga membuat pori-pori  semakin membengkak dan meregang.
2. Gunakan topical retinoid solution untuk merawat kulit wajah.
Topical retinoid solution akan membantu melarutkan bakteri pada kulit dan meminimalkan kerusakan akibat jerawat dan matahari. Jerawat dan matahari bisa menyebabkan pori-pori semakin membesar.
Gunakan krim tersebut sesuai petunjuk dan pastikan untuk menggunakan tabir surya ketika Anda berada di bawah paparan sinar matahari.
3. Jaga pori-pori tetap bersih.
Membersihkan pori-pori tidak selalu mudah, tetapi ini mutlak diperlukan untuk mengurangi penampilan pori-pori yang besar dan mencegahnya agar tidak semakin membesar.
Gunakan pembersih kulit wajah setiap hari dan setiap saat setelah melakukan aktivitas yang membuat berkeringat. Gunakan exfoliate seminggu sekali untuk menghilangkan lapisan kulit mati.
Exfoliate harus digunakan sesekali saja karena dapat menyebabkan kulit kering sehingga memproduksi lebih banyak minyak untuk mengkompensasi kondisi tersebut.
4. Gunakan pelembab wajah yang dirancang untuk tidak menyumbat pori-pori.
Hindari pelembab yang mengandung minyak dan mulailah menggunakan pelembab non-comedogenic. Make-up juga dapat menyebabkan pori-pori menjadi besar, jadi pastikan untuk mencuci make-up sebelum tidur.
Gunakan skin primer sebelum menggunakan foundation, ini akan membantu meratakan warna kulit dan mencegah make-up merembes ke dalam pori-pori.

Tips untuk Mengobati Gusi Bengkak

Jenis pengobatan yang tepat untuk gusi bengkak akan sangat tergantung pada penyebab kondisi tersebut.
Ada berbagai solusi medis maupun cara alternatif untuk menyembuhkan gusi bengkak.

Jika diperlukan, konsultasikan dengan dokter gigi untuk menemukan akar masalah dan menentukan perawatan terbaik bagi pembengkakan gusi.
Berikut adalah beberapa cara untuk menyembuhkan pembengkakan gusi.

1. Bilas mulut dengan larutan air garam.
Tambahkan satu sendok makan garam pada segelas air hangat dan aduk hingga tercampur merata.
Kumur menggunakan air garam selama beberapa menit. Ulangi proses ini beberapa kali sehari untuk meringankan gusi bengkak.

2. Kumur dengan air perasan lemon.
Peras satu buah lemon ke dalam segelas penuh air hangat. Kumur dengan larutan ini selama beberapa menit 2-3 kali sehari.

3. Membersihkan gigi dengan benang gigi.
Gunakan benang gigi untuk membersihkan sisa makanan dari sela gigi.
Sisa makanan yang tidak dibersihkan akan memicu gingivitis atau penyakit yang menyebabkan gusi bengkak dan berdarah.

4. Mengkonsumsi vitamin setiap hari.
Gusi bengkak dapat terjadi akibat kekurangan vitamin C, asam folat, atau zat besi.
Konsumsi multivitamin yang mengandung vitamin dan mineral penting jika diperlukan.

5. Memijat gusi.
Cara lain untuk meringankan pembengkakan gusi adalah dengan memijat gusi menggunakan cotton buds.
Lakukan pemijitan setidaknya 5 menit setiap hari untuk meningkatkan aliran darah ke gusi.

6. Propolis.
Teteskan ekstrak propolis ke dalam mulut. Biarkan setidaknya satu menit sebelum dibilas dengan air.

sumber:http://amazine.co/11976/6-tips-mengobati-gusi-bengkak/

Frozen Shoulder

Adhesive capsulitis, or “Frozen Shoulder” is generally a self-limited process that improves with time and conservative treatment.  Non-the-less, it can be a perplexing problem leaving patients frustrated by loss of function and the length of time necessary for recovery.  The onset of frozen shoulder is often marked by an awareness of pain associated with decreased shoulder motion. This may be characterized by inability to reach behind the back, for example, when fastening a garment or when reaching into a back trouser pocket.  Pain is sharp at the extremes of arm motion and sleep is almost always interrupted by pain.  The surrounding muscle groups of the neck and shoulder blade frequently become overworked, stiff and tender.
Incidence 

Frozen Shoulder affects 2 to 3 percent of the population ad occurs most commonly between the ages of 40 and 60.  It affects women in 70% of the cases.  Fifteen percent of patients will eventually develop bilateral disease.  A history of a minor strain or injury before onset may be noted; however, it is unclear whether this is an independent event or merely an early awareness of the pain associated with the onset of adhesive capsulitis.   Fortunately, frozen shoulder is only infrequently associated with underlying shoulder problems such as bursitis or rotator cuff injury. In general, resolution of the joint contracture does not uncover a secondary shoulder problem that then requires treatment, nor does frozen shoulder recur in the same shoulder.

Predisposing Factors

Ten to 20% of diabetic individuals at some point suffer adhesive capsulitis.  Diabetic frozen shoulder tends to develop into a more severe and resistant contractures, and are far more likely to require surgical treatment.   Other predisposing factors include a period of shoulder immobilization, hyperthyroidism, Parkinson’s disease and clinical depression.  The reasons for the association of these varied conditions with frozen shoulder remains unclear.

Pathology

Though some theories suggest an underlying inflammatory basis, the precise cause of adhesive capsulitis, remains elusive.  We do know however, that the capsule surrounding the shoulder joint thickens and contracts much like a shirt that is washed in scalding water. The tightened, shrunken capsule binds the shoulder joint and restricts arm motion.  Severe pain occurs when the shoulder reaches the end of its limited motion stretching the tightened inflamed capsule.

X-ray showing shoulder Relocated.
Shoulder Joint and Capsule
shoulder dislocated
Shoulder Joint
Three Stages of Development

The natural history of adhesive capsulitis (its clinical course) is divided into three stages:
  • Stage One: progressive loss of motion with increasing pain, particularly at night lasting approximately 2 to 9 months.
  • Stage Two: Though range of motion is markedly limited pain begins to lessen and ROM begins to again increase. This stage lasts, on average, 4 to 12 months.
  • Stage Three: Gradual restoration of motion and resolution of pain over the next 12 to 42 months.
For the majority of patients, adhesive capsulitis is a self-limiting process, with a gradual and spontaneous increase in range of motion. Approximately 7 to 15 percent of patients, however, will suffer permanently motion loss.  Diabetics, as noted previously, for reasons that are unclear, present with more profound loss of motion, and are more resistant to improvement with conservative treatments.  In these individuals, manipulation and possible capsular release may be appropriate.

Management

With the exception of diabetic frozen shoulder, the great majority of individuals with adhesive capsulitis will note significant, if not complete resolution of stiffness and pain within four years of the onset of symptoms.  Studies have demonstrated little if any difference in eventual therapeutic outcome despite treatment differences.  Comparisons between formal physical therapy, shoulder manipulation and simple home exercises have consistently failed to reveal differences in eventual range of motion or patient comfort. Prompt professional intervention, rather than benign neglect does, however, shorten disability and improve quality of life by achieving motion and relieving pain in the near term.   Simply put, for many individuals, four years can be a long time to wait.

Arthroscopic Treatmentfrozen shoulder excercises

In those individuals who do not improve with conservative care and who wish relief from the pain and limitation of adhesive capsulitis manipulation and arthroscopic capsular release can produce more rapid improvement.   Under anesthesia the shoulder is taken through a complete range of motion, separating the contracted capsule.  In profound contractures, a short arthroscopic procedure to surgically divide any remaining contractures or contracted capsule may be necessary to achieve full motion.  The goal of the surgery is a more rapid restoration of motion and relief of pain.. Both are followed by a course of  physical therapy.

Exercise Guide

The great majority of patients, it must be remember, will dramatically improve with conservative treatment.  On the other hand, too vigorous or forceful exercise program may paradoxically lead to increased pain and even further shoulder restriction.  Exercise, whether at home or in a therapy unit should be gradual, and progressive and gently challenging. Regular exercises to restore your normal shoulder motion and flexibility and a gradual return to everyday work and recreational activities are important for your full recovery. Exercise from 10 to 15 minutes 2 or 3 times a day during your early recovery

Printed Information (PDF)

This information is provided by Orthopedic Spine and Sport Medicine Center as basic information about a specific orthopedic topic. It is not intended as a personal reply to your specific questions or concerns. It is hoped that the contents of this instruction will help you understand the nature of your orthopedic problem and the possibilities of treatment. The final decision regarding treatment, however, must take into account the possibilities of outcomes and complications and should be made only after consideration and further discussion with your physician. For more information, please contact Orthopedic Spine and Sports Medicine Center at 201-587-1111.

source: http://www.ossmc.com/frozen-shoulder.php

Penyebab Nyeri Punggung Atas dan Bahu (Tulang Belikat) yang kita abaikan

Struktur tulang belikat cukup kompleks sehingga lebih rentan terhadap cedera.

Dalam keseharian, tangan selalu aktif sehingga menyebabkan ketegangan pada otot bahu.
Berbagai aktivitas seperti mengangkat belanjaan, menggendong anak, atau saat naik bis membuat tangan selalu sibuk.

Jadi, tangan serta bahu sering mendapat tekanan sehingga berpotensi menimbulkan nyeri pada tulang belikat.
Selain itu masih banyak faktor lain yang menjadi penyebab nyeri pungung (back pain) diantara tulang belikat.
Berikut adalah beberapa faktor yang menjadi penyebab back pain pada tulang belikat:
1. Cedera atau Trauma
Cedera struktural tulang atau ligamen bahu bisa menyebabkan nyeri punggung bagian atas yang parah.
2. Usia
Degenerasi cervical spine (tulang leher) karena penuaan atau penyakit tulang dapat menyebabkan nyeri tulang belikat.
3. Tendonitis
Tendonitis (terkadang akibat dari arthritis kronis) dapat menjadi penyebab nyeri bahu.
Peradangan tendon pada bahu menyebabkan nyeri punggung bagian atas.
4. Operasi
Pada kasus operasi kanker payudara, luka potong di payudara dan di ketiak dapat menyebabkan nyeri pada tulang belikat.
5. Radang Sendi (Arthritis)
Arthritis merupakan penyebab utama nyeri bahu, terutama pada orang tua.
Arthritis menyebabkan disfungsi pada sendi tulang rusuk belakang dan punggung bagian atas sehingga mengakibatkan nyeri sendi.
6. Osteoporosis
Osteoporosis menyebabkan kepadatan tulang berkurang sehingga tulang menjadi lemah. Kondisi ini dapat memicu nyeri pada bahu.
7. Kram Otot
Kram otot saat berolahraga atau saat melakukan pekerjaan sehari-hari bisa menyebabkan nyeri yang parah pada bahu atau tulang belikat.
8. Cedera Otot Rotator Cuff
Otot rotator cuff mengendalikan dan menstabilkan gerakan bahu. Bila otot ini cedera maka bisa menimbulkan nyeri punggung bagian atas terutama saat mengangkat lengan.
9. Stres yang Berlebihan
Stres fisik maupun psikologis yang berlebihan bisa memicu nyeri punggung atas.
Orang yang mengalami depresi biasanya akan selalu mengeluh tentang sakit punggung.
10. Penyakit Jantung
Rasa sakit karena diseksi aorta dapat menyebabkan nyeri bahu yang tajam.
Sakit pada bahu atau punggung bagian atas merupakan salah satu gejala serangan jantung, jadi tidak boleh diabaikan.
Angina pektoris umumnya dikenal sebagai nyeri dada yang dapat menyebabkan nyeri pada tulang belikat.
11. Gangguan Sistem Pencernaan
Gangguan pankreas, lambung, dan kerongkongan terkadang bisa menyebabkan nyeri punggung bagian atas.
Nyeri pada perut yang terjadi karena gangguan sistem pencernaan seperti pembentukan batu empedu, batu ginjal, atau tukak lambung, dapat menyebar hingga bahu.
Masalah pada hati (liver) dapat menimbulkan nyeri di bawah tulang belikat kanan.
12. Gangguan Pernapasan
Pneumonia, emboli paru, maupun pleurisy (radang selaput paru-paru) akibat infeksi pernapasan, dapat memicu nyeri punggung kronis dan nyeri pada bahu.
Masalah paru-paru menyebabkan bahu menjadi sakit saat bernapas dalam.
13. Sikap Tubuh yang Salah
Sikap tubuh yang salah saat tidur, duduk, bermain, bekerja, atau berdiri merupakan penyebab sederhana yang memicu terjadinya nyeri pada bahu.
14. Suhu yang Ekstrim Dingin
Paparan berlebihan terhadap suhu dingin yang ekstrim dapat menyebabkan nyeri punggung bagian atas.
15. Frozen Shoulder
Kondisi ini umum terjadi pada kelompok usia paruh baya. Frozen shoulder menyebabkan rasa sakit saat menggerakan bahu.
Melakukan latihan untuk mengatasi frozen shoulder di bawah bimbingan pelatih sangat penting untuk memudahkan gerakan bahu dan tangan.
16. Bursitis
Radang bursae otot bahu atau peradangan pada otot bahu menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit pada bahu.
17. Perubahan Gaya Hidup
Kesibukan serta jadwal pekerjaan yang padat membuat orang mengabaikan kesehatan mereka.
Hidup yang serba cepat bisa menyebabkan gangguan makan.
Kelangkaan waktu luang mempengaruhi rutinitas berolahraga.
Ketidakteraturan pola makan dan tidur, kurangnya diet yang seimbang, serta olah raga yang kurang tepat bisa menyebabkan nyeri punggung bagian atas dan bahu.
18. Diet Tidak Sehat
Kekurangan vitamin atau mengonsumsi terlalu banyak lemak saat makan, bisa melemahkan otot bahu sehingga menimbulkan nyeri pada otot bahu.
Kebiasaan buruk seperti mengonsumsi makanan olahan, junk food, atau makanan yang tidak bergizi akan mengakibatkan tubuh menjadi kekurangan nutrisi.
Kondisi tubuh yang kekurangan nutrisi akan membuat otot bahu melemah dan menimbulkan nyeri punggung bagian atas.
19. Perubahan Abnormal
Iritasi diafragma bisa menyebabkan nyeri bahu.
Pada kasus kehamilan ektopik, seorang wanita mungkin akan mengalami pada nyeri tulang belikat.


sumber:http://amazine.co/23181/19-penyebab-nyeri-punggung-atas-dan-bahu-tulang-belikat/, http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRxvuvZU7C4CQpOyh_bIvY_fVKP9LqJEUbP_58lLSmYXEOSYvLYNw

CEDERA-KEPALA

A.  PENGERTIAN
Cedera kepala adalah serangkaian kejadian patofisiologik yang terjadi setelah trauma kepala ,yang dapat melibatkan kulit kepala ,tulang dan jaringan otak atau kombinasinya (Standar Pelayanan Medis ,RS Dr.Sardjito)
Cedera kepala merupakan salah satu  penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia  produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas .(Mansjoer Arif ,dkk ,2000)

B.  ETIOLOGI
1.   Kecelakaan lalu lintas
2     Kecelakaan kerja
3.   Trauma pada olah raga
4.    Kejatuhan benda
5.    Luka tembak

C.  KLASIFIKASI
Berat ringannya cedera kepala bukan didasarkan berat ringannya gejala yang muncul setelah cedera kepala. Ada beberapa klasifikasi yang dipakai dalam menentukan derajat cedera kepaka. Cedera kepala diklasifikasikan dalam berbagi aspek ,secara praktis dikenal 3 deskripsi klasifikasi  yaitu berdasarkan
  1. Mekanisme Cedera kepala
Berdasarkan mekanisme, cedera kepala dibagi atas cedera kepala tumpul dan cedera kepala tembus. Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan mobil-motor, jatuh atau pukulan benda tumpul. Cedera kepala tembus disebabkan oleh peluru atau tusukan. Adanya penetrasi selaput durameter menentukan apakah suatu cedera termasuk cedera tembus atau cedera tumpul.

  1. Beratnya Cedera
Glascow coma scale ( GCS) digunakan untuk menilai secara kuantitatif kelainan neurologis dan dipakai secara umum dalam deskripsi beratnya penderita cedera kepala
a.Cedera Kepala Ringan (CKR).
GCS 13– 15, dapat terjadi kehilangan kesadaran ( pingsan ) kurang dari 30 menit atau mengalami amnesia retrograde. Tidak ada fraktur tengkorak, tidak ada kontusio cerebral maupun hematoma
b.Cedera Kepala Sedang ( CKS)
               GCS 9 –12, kehilangan kesadaran atau amnesia retrograd lebih dari                                30 menit tetapi kurang dari 24 jam. Dapat mengalami fraktur tengkorak.
c.Cedera Kepala Berat (CKB)
      GCS lebih kecil atau sama dengan 8, kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam. Dapat mengalami kontusio cerebral, laserasi atau hematoma intracranial.


3.   Morfologi Cedera
            Secara Morfologi cedera kepala dibagi atas :
a.Fraktur kranium
Fraktur kranium dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak, dan dapat terbentuk garis atau bintang dan dapat pula terbuka atau tertutup. Fraktur dasar tengkorak biasanya merupakan pemeriksaan CT Scan untuk memperjelas garis frakturnya. Adanya tanda-tanda klinis fraktur dasar tengkorak menjadikan petunjuk kecurigaan untuk melakukan pemeriksaan lebih rinci.
Tanda-tanda tersebut antara lain :
-Ekimosis periorbital ( Raccoon eye sign)
-Ekimosis retro aurikuler (Battle`sign )
-Kebocoran CSS ( rhonorrea, ottorhea) dan
-Parese nervus facialis ( N VII )
Sebagai patokan umum bila terdapat fraktur tulang yang menekan ke dalam, lebih tebal dari tulang kalvaria, biasanya memeerlukan tindakan pembedahan.
b.Lesi Intrakranial
Lesi ini diklasifikasikan dalam lesi local dan lesi difus, walaupun kedua jenis lesi sering terjadi bersamaan.
Termasuk lesi lesi local ;
-Perdarahan Epidural
-Perdarahan Subdural
-Kontusio (perdarahan intra cerebral)
Cedera otak difus umumnya menunjukkan gambaran CT Scan yang normal, namun keadaan klinis neurologis penderita sangat buruk bahkan dapat dalam keadaan koma. Berdasarkan pada dalamnya koma dan lamanya koma, maka cedera otak difus dikelompokkan menurut kontusio ringan, kontusio klasik, dan Cedera Aksona Difus ( CAD).
1)      Perdarahan Epidural
Hematoma epidural terletak diantara dura dan calvaria. Umumnya  terjadi pada regon temporal atau temporopariental akibat pecahnya arteri meningea media ( Sudiharto 1998). Manifestasi klinik berupa gangguan kesadaran sebentar dan dengan bekas gejala (interval lucid) beberapa jam. Keadaan ini disusul oleh gangguan kesadaran progresif disertai kelainan neurologist unilateral. Kemudian gejala neurology timbul secara progresif berupa pupil anisokor, hemiparese, papil edema dan gejala herniasi transcentorial.
Perdarahan epidural difossa posterior dengan perdarahan berasal dari sinus lateral, jika terjadi dioksiput akan menimbulkan gangguan kesadaran, nyeri kepala, muntah ataksia serebral dan paresis nervi kranialis. Cirri perdarahan epidural berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa cembung
2)Perdarahan subdural
Perdarahan subdural lebih sering terjadi daripada perdarahan epidural( kira-kira 30 % dari cedera kepala berat). Perdarahan ini sering terjadi akibat robeknya vena-vena jembatan yang terletak antara kortek cerebri dan sinus venous tempat vena tadi bermuara, namun dapat terjadi juga akibat laserasi pembuluh arteri pada permukaan otak. Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh permukaan hemisfer otak dan kerusakan otak dibawahnya lebih berat dan prognosisnya jauh lebih buruk daripada perdarahan epidural.
3)Kontusio dan perdarahan intracerebral
Kontusio cerebral sangat sering terjadi di frontal dan lobus temporal, walau terjadi juga pada setiap bagian otak, termasuk batang otak dan cerebellum. Kontusio cerebri dapat saja terjadi dalam waktu beberapa hari atau jam mengalami evolusi membentuk perdarahan intracerebral.  Apabila lesi meluas dan terjadi penyimpangan neurologist lebih lanjut
4)Cedera Difus
Cedera otak difus merupakan kelanjutan kerusakan otak akibat akselerasi dan deselerasi, dan ini merupakan bentuk yang lebih sering terjadi pada cedera kepala.
Komosio Cerebro ringan akibat cedera dimana kesadaran tetap tidak terganggu, namun terjadi disfungsi neurologist yang bersifat sementara dalam berbagai derajat. Cedera ini sering terjadi, namun karena ringan sering kali tidak diperhatikan, bentuk yang paling ringan dari kontusio ini adalah keadaan bingung dan disorientasi tanpa amnesia retrograd, amnesia integrad ( keadaan amnesia pada peristiwa sebelum dan sesudah cedera) Komusio cedera klasik adalah cedera yang mengakibatkan menurunya atau hilangnya kesadaran. Keadaan ini selalu disertai dengan amnesia pasca trauma dan lamanya amnesia ini merupakan ukuran beratnya cedera. Hilangnya kesadaran biasanya berlangsung beberapa waktu lamanya dan reversible. Dalam definisi klasik penderita ini akan sadar kembali dalam waktu kurang dari 6 jam. Banyak penderita dengan komosio cerebri klasik pulih kembali tanpa cacat neurologist, namun pada beberapa penderita dapat timbul deficit neurogis untuk beberapa waktu. Defisit neurologist itu misalnya : kesulitan mengingat, pusing ,mual, amnesia dan depresi serta gejala lainnya. Gejala-gejala ini dikenal sebagai sindroma pasca komosio yang dapat cukup berat. Cedera Aksonal difus ( Diffuse Axonal Injuri,DAI) adalah dimana penderita mengalami coma pasca cedera yang berlangsung lama dan tidak diakibatkan oleh suatu lesi masa atau serangan iskemi. Biasanya penderita dalam keadaan koma yang dalam dan tetap koma selama beberapa waktu, penderita sering menunjukkan gejala dekortikasi atau deserebasi dan bila pulih sering tetap dalam keadaan cacat berat, itupun bila bertahan hidup. Penderita sering menunjukkan gejala disfungsi otonom seperti hipotensi, hiperhidrosis dan hiperpireksia dan dulu diduga akibat cedera batang otak primer.
D.PATOFISIOLOGI CEDERA KEPALA
Cedera Kepala
 E.MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinik dari cedera kepala tergantung dari berat ringannya cedera kepala.
1.Perubahan kesadaran adalah merupakan indicator yang paling sensitive yang dapat dilihat dengan penggunaan GCS ( Glascow Coma Scale)
2. Peningkatan TIK yang mempunyai trias Klasik seperti : nyeri kepala karena regangan dura dan pembuluh darah; papil edema yang disebabkan oleh tekanan dan pembengkakan diskus optikus; muntah seringkali proyektil.
F.PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.Pemeriksaan laboratorium
2.X-Ray, foto tengkorak 3 posisi
3.CT scan
4.Foto cervical bila ada tanda-tanda fraktur cervica
G.KOMPLIKASI
a.Perdarahan intra cranial
-Epidural
-Subdural
-Sub arachnoid
-Intraventrikuler
            Malformasi faskuler
-Fstula karotiko-kavernosa
-Fistula cairan cerebrospinal
-Epilepsi
-Parese saraf cranial
-Meningitis atau abses otak
-Sinrom pasca trauma
b.Tindakan :
-infeksi
-Perdarahan ulang
-Edema cerebri
-Pembengkakan otak
H.PENATALAKSANAAN
1.Tindakan terhadap peningkatan TIK
a.Pemantauan TIK dengan ketat.
b.Oksigenasi adekuat
c.Pemberian manitol
d.Penggunaan steroid
e.Peninggatan tempat tidur pada bagian kepala
f.Bedah neuro
1.Tindakan pendukung lain
a.Dukung ventilasi
b.Pencegahan kejang
c.Pemeliharaan cairan, elektrolit dan keseimbangan nutrisi.
d.Terapi antikonvulsan
e.CPZ untuk menenangkan pasien
f.NGT

J.DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL :
1.Nyeri akut b. d agen injuri fisik
2.Resiko infeksi b.d trauma, tindakan invasife, immunosupresif, kerusakan jaringan
3.Ketidak seimbangan nutrisi kurang kebutuhan tubuh b. d ketidakmampuan pemasukan makanan atau mencerna makanan dan atau mengabsorbsi zat-zat gizi karena faktor biologis.
4.PK : Peningkatan TIK
5.Perfusi cerebral tidak efektif b/d Penekanan pembuluh darah & jaringan cerebral
6.Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit dan perawatannya b/d kurang paparan terhadap informasi, keterbatasan kognitif
7.Sindrom defisit self care b/d kelemahan, penyakitnya

sumber:http://ppni-klaten.com/index.php?option=com_content&view=article&id=68:cedera-kepala&catid=38:ppni-ak-category&Itemid=66




 

Monday, April 22, 2013

Cidera pada lutut / Knee Joint


Anterior Cruciate Ligament (ACL) adalah urat di dalam sendi yang menjaga kestabilan sendi lutut. Cedera ACL sering terjadi pada olah raga high-impact, seperti sepak bola, futsal, tenis, badminton, bola basket dan olah raga bela diri.

Pada umumnya ACL dapat cedera pada keadaan ketika sedang lari  mendadak berhenti kemudian berputar arah sehingga menyebabkan lutut terpuntir atau lompat dan mendarat dengan posisi lutut terpuntir.

Pada saat cedera biasanya pasien akan mendengar suara seperti ada yang patah dalam sendi. Saat itu tiba-tiba pasien merasa 'kehilangan tenaga' dan langsung jatuh. Kadang-kadang setelah beberapa saat, pasien dapat berjalan kembali tetapi pincang, sendi lutut sulit digerakkan karena nyeri, dan diikuti dengan bengkak.


Namun sering, setelah cedera 1-2 hari, pasien dapat jalan seperti biasa. Keadaan ini bukan berarti ACL sudah sembuh.

Pada perkembangannya pasien akan merasakan bahwa lututnya tidak stabil, gampang 'goyang' dan sering timbul nyeri.

Dengan cedera ACL pasien akan sulit sekali untuk dapat melakukan aktifitas high-impact sports, seperti main bola, futsal, basket atau badminton.

Sebagian besar Cedera ACL Ligamen memerlukan tindakkan operasi Arthroscopy agar pasien dapat pulih seperti sedia kala.

Standar operasi Arthroscopy ACL Reconstruction yang kami pakai adalah Arthroscopic ACL Double Bundle Reconstruction. Tehnik ini telah kami lakukan lebih dari 800 kali sejak tahun 2007. Tehnik operasi ini sangat populer di USA, Eropa dan Jepang karena dengan tehnik ini, hasilnya sangat memuaskan pasien.

Saat ini tehnik operasi ini dipakai sebagai standard untuk operasi cedera ACL atlet-atlet papan atas kelas dunia, misalnya Tiger Wood.

Pengendara banyak yang meremehkan soal lutut. Saat riding, lutut dibiarkan tanpa pelindung. Tidak jarang bahkan pengendara menggunakan celana pendek atau celana kain ketika berkendara. Padahal lutut penting dilindungi. Sama akan halnya kepala yang wajib dilindungi helm.


Menurut Dr. Muki Partono, Sp.OT, Dokter Spesialis Orthopedic dan Tramatology, lutut kerap menjadi bagian yang parah saat kecelakaan. Itu karena posisinya yang fleksibel dan bisa menekuk sehingga menjadi tumpuan bagi tubuh. Karena itu, benturan yang terjadi antara lutut dengan aspal bisa menimbulkan trauma fatal terhadap tulang lutut.

“Di lutut banyak terdiri dari jaringan. Lutut terdiri atas tulang, kapsul, rawan sendi, bantalan lutut atau meniskus, ligamen atau jaringan penyambung tulang yang membentuk sendi yang bertugas menjaga kestabilan lutut, otot, dan saraf yang bekerja sama menghasilkan gerakan lutut sempurna,” jelas Dr. Muki.

Cedera sedikit saja menimpa lutut akan menyebabkan si penderita merasakan sakit yang luar biasa. Kalau cedera, lutut terasa sakit jika dipakai berjalan dan menekuk. Karena fungsinya menyangga tubuh, seringkali keseimbangan tubuh juga menjadi berkurang.

“Luka dalam pada lutut bisa lama penyembuhannya. Karena wilayah ini cenderung bergerak. Biasanya cedera yang dialami pada tulang rawan sendi, bantalan lutut dan ligamen,” lanjut Dr Muki yang praktik di RS. Puri Indah, Jakarta Barat.

Dokter Muki berpendapat, untuk pengendara yang usianya 30 tahun ke atas, sendi lutut mulai memasuki masa homeostatis, yaitu masa di mana sendi sudah mengalami kemunduran. Ini dikarenakan di dalam sendi ada pelumas dan produksinya makin berkurang. Sehingga gerakan sedikit saja akan terasa ngilu. Bayangkan saja kondisi ini seperti piston yang bergerak cepat namun tidak mendapatkan pelumasan yang baik.

Sedikit benturan mudah cedera. Sedangkan pada usia kepala empat, otot-otot tidak elastis lagi sehingga gampang rusak jika mengalami benturan dengan aspal. “Pemeriksaan cedera lutut secara pasti bisa dilakukan lewat bantuan magnetic resonance imaging (MRI) yang bisa diketahui jenis dan lokasi kerusakan secara detail,” mantap Dr. Muki.

Teknik lain bisa dilakukan dengan artroscope (artroskopi) yang dapat mengintip dan mereparasi kerusakan lutut seperti mengangkat pecahan tulang rawan, memperbaiki meniskus, ataupun menyambung ligamen.

Repotnya, proses penyembuhan di bagian ini tergolong sulit dibanding bagian lainnya. Hal ini karena, posisi lutut yang bergerak, membuat luka yang terjadi tidak mudah mengering. Beda dibanding dengan bagian lain yang tidak bergerak. (motorplus-online.com)

sumber:
-http://www.jakarta-knee-center.com/cedera-ligamen-acl.asp
-http://forum.otomotifnet.com/otoforum/showthread.php?13106-Jangan-Sepelekan-Cedera-Lutut-Hindari-Trauma-Fatal